Showing posts with label Twilight Twihards Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Twilight Twihards Indonesia. Show all posts

Thursday, November 8, 2012

The Lion Hawk : A Wimpy Family, Bab 7


Dominique—“Bagaimana bisa?” Geram sean kepada Veruca yang menganggetkanku yang sedang tiduran diatas rumput di Taman Sekolah. Veruca tau, hanya sean dan Rafael-lah yang bisa dia panggil kali ini. Yang lain masih sangat sibuk. Rafael menghampiriku dan bertanya padaku. “bagaimana bisa Petugas tata usaha itu berubah menjadi Roh?”
“Aku tak tau. Veruca bilang dia pernah bertemu dengan Vampir Nomaden yang bakatnya berubah menjadi Roh.” Jawabku. Rafael menghela nafasnya panjang.
“Apakah kau pernah melihat yang seperti itu sebelumnya, Domi?”
“Ya. Aunt Kathleen bilang aku bisa melihat dan berbicara dengan Roh. Dia bilang itu sebuah keturunan.”
“Turunan langsung dari Taha Aki.”
“Taha aki?”
“Ya. Dialah kakek buyut kita. Dia yang pertama bisa menjadi Werewolf. Dialah yang membuat keturunannya menjadi Werewolf. Karena Gen-nya. Dan, dia bukan hanya bisa melihat dan Berbicara dengan roh, dia juga bisa mengendalikan mereka, Dom.”
“Jadi, kemungkinan aku bisa mengendalikan mereka juga?”
“Mungkin..”

Drama’s Class dan rapat ketua murid bubar bersamaan. Veruca menjelaskan segalanya tentang keanehan dari bayangan putih itu. Sedangkan aku dan Rafael menyusul ke Journalist’s Class untuk memanggil Edelaine dan Genevie. Journalist’s Class ada dilantai 2, paling pojok.
“Hey. Apakah Daniella menceritakan segalanya tentang The Lion Hawk?” Tanya Rafael saat kami melewati kelas Biologi.
“Ya. Segalanya. Mulai dari mengapa dinamakan The Lion Hawk, siapa yang membuat nama itu. Dan yang lainnya.”
“Apakah Daniella bercerita tentang Imprint?”
“Ya.” Jawabku singkat kami ada diambang lantai 1 menuju lantai 2.
Well, aku berharap aku bisa mengimprint salah satu anak The Lion Hawk.” Desahnya.
“Siapa?”
“Kau tak perlu tau.” Goda Rafael.
“Oh.. Ayolah. Aku adikmu juga, ‘kan. Ayolah. Rafael Black.” Mohonku.
“Ehmm, Ed..Ed..Edelaine.”
“H-A-H?” Saat aku ingin melanjutkan perkataanku, Tiba-tiba Rafael menginjak kaki kiriku, dan aku tau tanda itu. Genevie dan Edelaine keluar dari ruangan Jurnalis. “Hei, kita baru saja mau menyusul kalian.” Kataku menyembunyikan kegialaan saat melihat ekspresi Rafael melihat Edelaine.
“Ya. Kita baru selesai. Ada apa?” Tanya Edelaine.
“Well, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan pada kalian.” Kataku tersenyum sembari membalas injakkan kaki ke Rafael. “Mari.”

Annabeth—ada sesuatu yang salah pada mereka. Tapi aku tak tau apa itu. Aku tak dapat melihat masa lalu mereka. Wanita itu Bernama Cressida dan Lelaki bertubuh Besar itu bernama Jeremiah. Tapi, saat aku melihat lelaki bertubuh besar itu, aku seperti pernah bertemu dengannya.
“Kringgggg..” suara telepon mengagetkanku. “Halo?” kataku dengan suara yang parau.
“Hey Anne. Ada apa? Suaramu parau sekali.” Keluar suara dari ambang telepon. Ini Alicia!
“Hey Allie, tak apa. Aku hanya kaget kau meneleponku. Ada apa?”
“Tidak. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa minggu depan aku akan pindah dan tinggal Di Forks.”
“Benarkah?” Kataku girang. “Baiklah, kutunggu kau Minggu depan!”
“Baik. Oh, dan Ya, aku memiliki 2 anak baru.”
“Anak Adopsi?”
“Ya. Mereka Vampir. Yang lebih besar berbeda satu tahun dengan Ellectra, dia Alexa. Dan yang satu lagi, dia lebih muda 4 tahun dari Ellectra, namanya Caitlin. Mereka dari keluarga Zeavinne. Tapi sayang, Ibunya, di introgasi Oleh Aro. Aku tak tau apa sebabnya.”
“Ayahnya?”
“Masih tanda Tanya. Mereka bilang ayahnya Nomaden. Aku tak mengerti pokoknya.” Bisa kudengar Alicia menghela nafas panjang. “Tapi mereka sudah menjadi Vegetarian kok. Hey, sudah dulu ya. Electra dan Lincoln bertengkar lagi. Bye Anne. Bippp—“
Dan, begitulah percakapanku dengan Alicia.

Dominique—Desiran Ombak, Headphones, dan Ipod-ku menemaniku sore ini. Ditempat persembunyianku. Tadi, Castiel bilang, lebih baik kita pulang dan membahasnya Besok dirumahnya.
“Ehmm..” Deham seseorang dariluar Headphones mengagetkanku. Buru-buru kulepas dan kuselipkan Headphonesku di leher.
“Rafael!” Geramku. “kenapa kau tau tempat persembunyianku?”
“Ini tempat persembunyianku, Tau.” Ucapnya.
“Oh, Hell. Baiklah kalau begitu. Ini tempat persembunyian kita, Deal?” kataku, mengulurkan jari kelingkingku kehadapannya. Rafael tersenyum dan membelitkan kelingkingnya ke kelingkingku. “Deal!” Geramnya.
“Sedang apa kau disini?” Tanyanya.
“Aku? Setiap sore, sejak aku tinggal di La Push, aku selalu kesini.” Kataku. “Mencari ketenangan. Dengan membawa Ipodku. Dan kadang, aku selalu membawa buku kesayanganku. Kau sendiri?”
“Kadang-kadang. Aku tak begitu sering kesini. Hanya untuk merenung.”
“Untuk apa kau merenung?”
“Biasanya, kalau ada sesuatu yang membuatku tidak enak hati, aku selalu datang kesini sampai aku bisa merasa tenang.”
“Well, kita punya tujuan yang sama kalau begitu.” Kutatap laut La push. Biru. Biru Laut. Sejuk. Cahaya matahari sore. Itu yang membuatku jadi tenang. “hei, aku ingin tau. Bakatmu apa?”
“Aku? Aku Teleportasi.”
“Teleportasi? Apakah seperti David Race di film ‘Jumper’ ?”
“Bisa kurasa, begitulah. Tapi, saat aku lapar aku tak bisa menggunakan Teleportasiku dengan baik. Kadang salah alamat.”
“Okay. Seperti permulaannya David Race yang ujung-ujungnya Balik lagi ke perpustakaan.”
“Ya. Kukira begitu..”
“Ada apa, Raf? Mukamu tak enak dilihat.” Tanyaku sedikit penasaran.
“Aku sedikit iri dengan sean. Genevie bilang dia mulai memiliki tanda-tanda Imprint. Dan, yang diimprintnya itu.. Genevie bilang..” Rafael tidak mau melanjutkan perkataannya. Jadi, terpaksa aku harus memaksanya berbicara.
“Ya?”
“Alletha.”
Oh my god.. pantas saja Rafael tak mau melanjutkan perkataannya. Itu karena alletha ‘kan Adikku!
“Dan, Genevie bilang, dia mulai merasakan perasaan aneh saat dia berdekatan dengan Lincoln, anak aunt Alicia.” Sambungnya. “sampai saat ini, aku masih menunggu kapan giliranku dan Castiel mendapatkan Imprint.”
“Ada waktunya, Raf. Suatu saat nanti kau pasti bisa mengimprintnya.”

Saat aku sampai dirumah, kulihat ada seorang anak kecil yang terlalu lugu berdiri dibelakang mom. Oh tidak. Ini tidak Mungkin. Apakah Mom sudah gila?!
“Mom gila yah?” Tanyaku tak percaya melihat anak kecil itu.
“Tidak. Waktu Mom jalan-Jalan ke Seattle bersama Rebecca mom menemukan dia di Orphan Foreign Seattle, Dom. Dia anak yang manis.” Kata mom. Oh god! Aku sudah kekurangan kasih sayangnya dan sekarang dia ingin menambahkan satu anak adopsi?! Greg.. Aunt Kathleen.. siapapun.. bawa aku kembali ke Missouri..
“Siapa namanya?!” tanyaku tertekan. Gadis mungil berambut Cokelat ke pirangan itu masih bersembunyi di belakang mom karena takut akan suaraku.
“Zenita..” Ucap mom. “…Zenita Ariana Shalott.”
“Okay. Telepon 911, tanyakan pada mereka, Dimana Letak keluarga Shalott tinggal. Dan, Bawa dia kembali ke Orang tuanya. Sekarang!”
“Domi! Kau tak berhak seperti itu padanya. Dia hanya gadis kecil yang tidak tau apa-apa. Kepala panti asuhan bilang, Dia anak Tunggal dan Orang tuanya Meninggal karena Pembunuhan.” Bentak mom padaku. Oh god, Pembunuhan..
“Mom! aku kekurangan kasih sayangmu. Itu sebabnya aku pergi ke Missouri. Dan, setelah aku kembali kesini, yang ada? Mom malah membagi kasih sayangnya kepada orang lain.” Seketika ruangan keluarga ini sunyi. Lucas, Daniella, Alletha, Allena, Nancy, bahkan Dad-pun ikut diam. Apakah aku salah berkata seperti itu?
“Kerja bagus mom! K-E-R-J-A B-A-G-U-S!” teriakku. Aku lari berlari keluar rumah, kearah hutan. Terus beralari sejauh mungkin sampai rumahku tak terlihat. Tapi, tiba-tiba hawa panas disekelilingku menyebar, membuatku gerah tak karuan. Padahal saat ini musim dingin akan datang. Aku terus beralari, sampai akhirnya aku melompat, dan menjejakkan tanah kembali dengan empat kaki…

Gale—Dia Berhasil. Dia diterima oleh anggota Cullen Junior itu. Yang harus kita tunggu hanya dua anak The Lion Hawk dan satu anak Cullen Junior yang masih berada Di Volterra.
“Semua berjalan dengan sempurna, Master.” Ucap Violet. Dialah vampir nomaden yang membuatku bisa berubah menjadi Roh.
“Ya. Kita hanya harus menunggu kapan rencana B berlangsung.”

(To Be continued..)

*Kerja Bagus Mom, KERJA BAGUS! #Tepuk tangann XD
*Teleponnnnnn, dimana Teleponnnnn, 911 !!! sekarangg!!!!! XD
*Maafkan kakakmu yang kejam ini Ze u.u XD

<3 The Lion Hawk : A Wimpy Family, Bab 7 <3

The Lion Hawk : A Wimpy Family, Bab 6


Young Gregory—Kulihat Cyntia dan Jessie sedang susah payah untuk membawa sesuatu. Aku tak tahu apa itu. Jadi kubuntuti mereka sampai aku berada disebuah tempat yang agak tersembunyi. Tapi, kalau dipikir dua kali, buat apa aku membututi mereka? Aku kembali ke kelas, menyimpan tasku dan menemukan Eshtell tanpa Dominique. Dimana dia?
“Hei, Esh. Kau tak bersama Dominique?”
“Hah? Bukannya dia bersamamu?!” Ucap Eshtell terkejut. Jangan-jangan..
Aku menarik Eshtell ke tempat dimana Adele dan Jessie berada. Eshtell juga sepertinya sudah mengerti jalan pikiranku. Tepat saat itu juga Mrs.Edmunds datang kepada kami. “Ada apa Greg, Eshtell?”
“Sepertinya Dominique Sedang disiksa oleh Holly, Mrs.Edmunds.” ucap Eshtell Khawatir. Mrs.Edmunds, yang bisa kami sebut juga sebagai sahabat kami juga, ikut bersama kami ketempat Cyntia dan Jessie tadi. Saat kami masuk kedalamnya, dan memang benar. Itu dominique! Dia sedang disiksa! Holly sedang berusaha untuk menggunting rambut Dominique!
“Ms.Nevera, dan yang lainnya. Ikut bersamaku, sekarang!” teriak Mrs.Edmunds.

 Dominique—Genevie dan Castiel mencoba membaca pikiran petugas Tata usaha paruh baya itu. Tapi, yang ada mereka malah mendapat kekosongan. Apa mungkin lelaki paruh baya itu benar-benar Vampir?
“Kita buktikan nanti saja Genevie.” Kata Castiel mengakhiri kegilaan mereka. “Lagi pula aku dan Daniella akan rapat ketua murid lagi. Dan lebih baik kalian juga bikin strategi.”
“Baiklah. Domi, pulang sekolah nanti, kita akan keruang potografer. Laine, Genevie, kalian urusi pembunuhan ini di ruang Journalis. Szeva, Roxie, dan Allena, kalian latih dulu anak-anak kelas Drama. Dan Rafael, Sean, kalian lebih baik Latihan Basket.” Seru Veruca.
“Wait. Castiel, Alletha, dan Daniella?” Tanyaku penasaran.
“Castiel ketua untuk angkatan kelas Delapan Domi. Alletha Wakil untuk angkatan kelas tujuh. Sedangkan Daniella Wakil ketua murid.” Seru Veruca. “Well, kebanyakan Pemegang ketua dan Wakil untuk setiap kelas dan Ekstrakulikuler adalah anak-anak The Lion Hawk. Dalam pemilihan suara, Mereka selalu memilih kami. Rafael, Dia pelatih untuk Basketball’s Class. Sedangkan Sean, Dia Kaptennya. Edelaine dan Genevie asisten untuk kepala Editor. Dan Daniella, kau tau, Dia kepala Editor untuk Journalist’s Class. Szevarine, Dia bisa dibilang Asisten sutradara, dan Sutradara untuk Drama’s Class adalah Mrs.Woddy. Roxanne dan Allena asisten penulis naskah.”
“dan kau, Veruca?”
“Aku? Aku hanya Potografer. Kita potografer, Dom. Kau pengganti Sasha. Verona, karena dia Netra, dia suka ikut denganku ke ruang potografer. Hanya duduk dan menemaniku saja.”
“Sudah. Lebih baik kita kembali kekelas masing-masing sekarang.” Geram Genevie. “Ingat baik-baik strategi yang tadi Veruca bilang pada kalian. Sekarang, keluar dari Kamar mandi ini. Aku Muak. Oh ya, Castiel, Rafael, Bawa Mayat Sasha keruang usaha kesehatan sekolah. Biar Mr.Longgbottom mengurus dia.”
“Hei, Dom. Lebih baik sekarang kita bikin rencana untuk memancing kepala tata usaha itu. Berdua.” Seru Veruca padaku. Aku mengangguk padanya.

Gale—“Lebih baik kau menjadi guru Privat, Cesie.” Saranku.
“Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu!” Teriaknya. Dari ambang telepon.
“Baiklah. Maaf, sayang. Aku menemukan Informasi bahwa salah satu dari anak Cullen Junior memiliki sekolah Privat. Di La Push, Clearwater’s Music Studio.”
“Clearwater’s Music Studio? Nama yang Bodoh. Sebodoh mereka.” Tawa Cressida menggetarkan Telepon. “Baiklah. Aku akan berusaha untuk melamar pekerjaan disitu.  Bipp—”
..Klingg… kudengar suara pintu dibuka. Buru-buru aku menutup teleponku dan melihat siapa itu.
“Permisi, Sir. Aku lupa Nomor Lokerku.” Sambut Gadis itu.
“Baiklah. Siapa namamu?”
“Kau lupa? Kemarin kau mengenalku. Dominique Lahote.” Ucap gadis itu menumpukan tangannya diatas meja ruang tata usaha sembari menatapku. Oh Well, Aku sungguh ingat. Yang harus kutunggu hanya 2 anak The Lion Hawk yang masih ada di Volterra. Kalau mereka sudah ada disini, maka saat itulah kami beraksi.
“Oh, maafkan saya Ms.Lahote. saya kadang lupa siapa anda. Nomor Lokermu 83.”
“Baiklah. Terima kasih.” Klinggg suara lonceng pintu terdengar. Gadis itu keluar.
Kringgg.. suara teleponku berbunyi, kuangkat telepon itu. “Halo?”
“Kami berhasil. Aku berhasil memasuki Sekolah Privat ini. Selanjutnya, yang harus kulakukan hanyalah menunggu anak Cullen Junior itu keluar.”
“Baik. Kerja yang bagus.”
“aku butuh kau, sekarang. Bippp—”
Raut Wajahku berubah menjadi diriku lagi, dan aku mengubah diriku menjadi Roh yang kasat mata. Tak bisa dilihat oleh semua orang. Kecuali anak Indigo tentunya.

Dominique—aku berhasil mengambil lembar identitas si petugas tata usaha itu saat dia tak memerhatikanku di meja tadi. Veruca sudah menungguku diambang pintu tata usaha. Kami berjalan ke Ruang Potografer, bersama Verona juga tentunya. Ruang potografer dan Pencucian tepat disebelah ruang Tata Usaha. Hanya, ruangan ini agak terpojok. Jadi tak begitu kelihatan. Veruca memberiku tanda pengenal dan mengkalungkan tanda pengenal itu dileherku.
“Wait, Kenapa bisa ada fotoku?” tanyaku.
“aku dapat dari kameranya Sasha.”
Segalanya tentang Potografer ada disini. Kalau segalanya ada disini, mengapa semua anak La Push reservation tak ada yang mau jadi potografer?
Aku sengaja akan membuka lembar identitas si petugas tata usaha itu. Tapi Veruca mencengahku. Dia bilang, lebih baik jangan disekolah ini, CCTV ada dimana-mana, jadi mungkin saja petugas tata usaha bisa ‘ngeh’ kalau lembar identitasnya sudah tak ada dimejanya lagi.
“Hei, aku ingin tau bagaimana hasil Fotomu, Ini.” Ucap Veruca sembari memberikan Kameranya padaku.
“Baiklah..”

Taman sekolah menjadi Objekku kali ini. Klik. Klik. Klik.
Oke. Karena ini permulaan, mungkin cukup.
***
“Hei, Veruca. Ini Hasilku.”
“Hei, Ini menakjubkan!” Teriak Veruca. “Bagaimana kau bisa melakukannya?!”
“Jika Cahaya Matahari, Cukup kurangi saja Kontrasnya.” Veruca melihat-lihat semua hasil fotoku. Wait, ada satu foto yang membuat aku tak berhenti menatapnya. “Tunggu Ver. Coba kembali ke Foto yang sebelumnya.”
Veruca menuruti perintahku. Itu, kenapa tepat disisi pintu belakang ruang tata usaha, yang langsung terhubung ketaman Sekolah, ada sesosok bayangan Putih melayang.
“Menurutmu, apa ini?” Tanyaku pada Veruca sembari menunjukkan kearah bayangan putih tersebut.
“Mungkin hanya secercah cahaya, Dom.”
“Tak mungkin secercah Cahaya bisa seperti ini. Ini seperti Roh.”
“Roh?” Tanya Veruca tak percaya. “Maksudmu?”
“Aku sering melihat Roh. Well, teman-temanku sering menyebutku Indigo, tapi kata Aunt Kathleen itu turunan langsung dari kakek-kakek buyutku. Dan roh yang satu ini mirip seperti roh yang pernah kulihat di Westmore, Missouri.” Aku memang pernah melihat roh itu. Roh yang membuat kaka Holly sampai tidak sadarkan diri.
“Bagaimana kalau Roh itu adalah Petugas tata usaha?” Ucap Verona mengikuti Obrolan. Seketika kami diam sejenak. Roh, tepat di pintu belakang Tata usaha. Mungkin saja!
“Hey, apakah mungkin Vampir bisa berubah menjadi Roh?” tanyaku bingung.
“Mungkin saja. Aku pernah bertemu dengan Vampir Nomaden di Hutan saat sedang berburu dengan Mom. Mom dan Vampir Nomaden itu berbicara selayaknya teman lama. Lalu si Vampir itu bilang ‘‘aku bisa berubah menjadi Roh’’ mom yang seketika terkejut bertanya apakah itu bakatnya, dan dia Bilang ‘Ya’.” Geram Veruca.
“Ayo kita ke ruang tata usaha.”
Dan memang benar, petugas paruh baya itu sudah tak ada diruangan tata usaha. Kami yakin bahwa dialah yang membunuh Sasha dan dia adalah Vampir. Kami sepakat untuk menunggu yang lain ditaman sekolah.

AnnabethKemunculan 2 orang asing untuk mendaftar sebagai guru disini sangat mencurigakan. Walaupun aku sudah bilang pada Mrs.Smith untuk menolak mereka, Mereka tetap ingin bertemu denganku. Dan ini aneh, kau tau itu.
Saat aku bertemu mereka, kulihat wanita berambut Cokelat yang sepantar denganku tersenyum padaku.
“Bisa saya bantu?” tanyaku.
“Ya. Saya ini ingin menjadi Guru Privat disekolah anda.” Ucap Wanita itu.

(To Be continued..)

*sama kaya Zara dong, bisa liat *Something* o.O XD
*No comment Egen From me u.u XD

The Lion Hawk : A Wimpy Family, Bab 5



Young Dominiqueaku pulang dengan hati yang amat kesal. Saat pelajaran tadi yang kudengar hanya keheningan, aku berlari ke kamar mandi dan mengurung diri selama pelajaran pertama usai. Dan, saat aku kembali kedalam kelas, tak ada satupun teman-temanku yang merasa bersalah.
Hari ini, aku berhasil kabur. Lagi. Dari Holly dan kelompoknya. Greg dan Eshtell kutinggalkan begitu saja. Masih dalam hati yang amat kesal, aku menendang kerikil yang ada didepan kakiku, berkali-kali sampai akhirnya aku sampai di rumah Aunt Kathleen.
Aku berlari kekamarku dan langsung mengurung diri dikamar, berkali-kali aunt Kathleen mengetuk pintu kamarku, dan akhirnya, Dia menyerah. Memang, tindakanku ini seperti anak kecil, Well, Aku memang masih kecil bukan? Umurku baru 9 tahun.
“..Kringgggg, Kringgggg, Kringggg..” suara telepon dikamarku berbunyi. Kuambil gagang telepon itu.
“Halo?”
Keheningan. Hening. Hening. Hening. Tak ada suara apapun keluar dari mulut si penelepon kecuali suara nafasnya.
“Okay. Aku tak punya banyak waktu. Silahkan telepon aku kapan-kapan lagi. Bye..” tepat saat aku akan menutup telepon itu, ada suara keluar dari dalam telepon. “Domi?” bisiknya. Well, Lelaki ternyata.
“Ya. Ini siapa?”
“Ingat aku? Raf..–—Bip.” Shitttt..! Lelaki ini sepertinya hanya ingin bermain-main di telepon saja denganku.
       -oOo-
Sial apa tidak? Aku meninggalkan Greg dirumah dan pergi kesekolah sendirian. Kali ini, tak ada Eshtell, yang membantuku untuk bersembunyi dari Holly dan Kelompoknya. Okay. Aku pasrah jika holly ingin balas dendam padaku. Aku berjalan Tenang layaknya murid-murid lain yang ingin masuk kesekoah, Saat aku pura-pura menganggap mereka tak ada, Ghalette—Anak buah Holly—melabrakku.
“Hai, Indigo.” Sergah Ghalette.
Please, sudah kubilang aku bukan Indigo!” Bentakku. Otomatis Holly maju dan Menyuruh Ghalette Untuk mundur.
“Hey Indigo, Ini saatnya aku membalas dendam padamu.” Suaranya, terdengar lembut. Dan kau tau apa artinya Lembut untuk Holly? Mematikan. “Ayo. Adele, Ghalette, Tarik dia! Dan, kau, Jessie, Cyntia, Ambil barang yang kita perlukan!”

Dominique“Hei.” Sapaku saat sampai dimejanya. Dia menyuruhku duduk dibangkunya dan aku menerimanya dengan lapang dada. Didepanku kini, anak berambut cokelat kehitaman yang sekelas denganku kemarin, duduk dengan anak berambut cokelat gelap yang sepertinya lebih pendek beberapa sentimeter darinya. Disamping kananku Genevie duduk dengan lelaki berambut cokelat terang. Dua anak perempuan yang melihatku tak karuan itu duduk berdua. Veruca, dengan seseorang yang ‘sepertinya’ kembarannya duduk dibelakangku. Oh Tuhan, mengapa harus hari ini aku terjebak dalam kelompok mereka..
Mr.Daybrick mengajak kami untuk pergi ke Taman Flora dan Fauna minggu depan. Untuk mengamati tumbuhan langka yang ada disana. Sedangkan untuk Faunanya, Well, Mungkin seperti kebun binatang yang ada di Missouri. Mungkin.
Bel akhir pelajaran berbunyi. Aku merapihkan buku-bukuku dan bergegas menuju kelas berikutnya.
“apa kelasmu yang selanjutnya?” Tanya Daniella seraya merapihkan buku-bukunya juga.
“Hemm, Pemerintahan.” Entah kenapa aku justru bingung dalam Middle school sudah diajarkan Pemerintahan. Biasanya, dikelas sepuluh atau sebelas tingkat High School lah pelajaran itu baru dipelajari.
“Hey, aku, Edelaine dan Veruca juga. Baiklah, ayo.”

Aku, Daniella, Veruca, dan Mungkin disebelah Veruca adalah Edelaine, pergi kekelas selanjutnya. Dikelas itupun, Aku duduk semeja dengan Daniella. Dibelakang kami, Veruca dan Edelaine. Guru kami belum datang, jadi ada kesempatan untuk Daniella, Veruca, dan Edelaine bercakap-cakap. Mereka sepertinya asyik bertiga. Dan aku tak tahu apa yang harus aku cakapkan pada mereka. Jadi aku hanya menghadap kedepan—Karena Daniella menghadap kebelakang—membaca buku paketku.
“Hey, Domi. Mari, gabung dengan kami.” Ajak Daniella. Terpaksa aku harus berbalik kebelakang. Veruca dan Edelaine tersenyum kepadaku dan aku membalas senyum mereka.
Yang kulakukan hanya diam. Pecundang. Habisnya aku tak tahu harus berbicara apa dengan mereka. Dan, kulihat, Edelaine yang sedang bertumpu pada kedua tangannya, hanya menjadi obat nyamuknya Veruca dan Daniella seperti aku, Hell, kukira dia juga ikut asyik dengan mereka berdua. Jadi, selagi masih ada kesempatan, inilah saat yang tepat untuk aku berinteraksi.
“Hei, kau Edelaine?” sapaku memulai percakapan kami berdua sembari mengulurkan tanganku kearahnya.
Dia tersenyum kepadaku, “Ya.” Jawabnya meraih tanganku. Oh, tidak. Tangan lebih dingin daripada Veruca.
“Hey, Spesies apa kau? Tanganmu lebih dingin dari Veruca.” Bisikku ditelinganya.
“Aku Werewolf Hybrid, Domi. Tanganku dingin karena bakatku bisa membekukan apapun.” Tawa Edelaine. Aku ingin melontarkan Leluconku, Tapi tepat saat itu juga, Mrs.Mace datang dan memulai pelajaran.

 “Kau harus semeja dengan kami mulai sekarang!” Geram Veruca. Saat kami berjalan ke Kafetaria.
“Kenapa?” tanyaku sedikit bingung. “Bagaimana dengan Sasha?”
“karena memang anak-anak The Lion Hawk harus bersama.” Jawab Edelaine. “Kau bisa mengajaknya bersama kami.”
“Baiklah.” Tapi, daritadi aku sama sekali tak melihat Sasha dan Kameranya. “Hei, Veruca. Kau potografer sekolah inikan? Aku sebenarnya mendaftar di kelas Potografer juga, tadi pagi.”
“Benarkah?!” teriak Veruca tak percaya. “Tak ada murid baru yang ingin menjadi Potografer belakang ini. Dan, itu berarti, potografer di La Push Reservation bertambah menjadi 3 orang! Oh, Well, apakah kau punya kameranya?”
“Ya. Hadiah Natalku. Sony seri Alpha 200. Dan Kamera kesayanganku dari Aunt Kathleen, Leica M8.”
“Punyaku Casio EX-FH20.”
“Oh, Please, jangan membahas kamera. Aku tak mengerti.” Geram Edelaine.

Kami sampai dimeja yang biasa diduduki anak-anak The Lion Hawk. Daniella sudah menceritakan semuanya tentang the lion hawk. Semuanya.
“Ini, kita tambah satu kursi untukmu, Domi.” Kata Daniella sembari mengambil kursi kosong. Aku duduk di kursi itu dan mencari Sasha. Dimana dia?
Baru kami yang sampai dimeja ini. Yang lain sepertinya masih dalam kelas. Sampai akhirnya kulihat Mereka, dengan alletha dan Allena juga, menghampiri Meja ini.
“Hai Domi.” Sapa Alletha. Sembari duduk dibangkunya. Allena tersenyum kepadaku. Yang lain menatapku tak karuan. Apalagi Genevie yang masih menatapku Tajam.
“Hei Dane, ternyata ini kembaranmu.” Ucap lelaki berambut cokelat terang yang tadi duduk dengan Genevie. “Castiel Call. Ketua The Lion Hawk.”
“Halo, Sean Clearwater. Kembaran Edelaine.” Sambut anak lelaki yang duduk dengan anak lelaki berambut Cokelat yang sekelas denganku kemarin. Well, sean.
“Hei, Dominique. Verona Littlesea. Kembaran Veruca. Maaf, aku Netra.” Sambut seseorang dari sebelah Veruca.
“Roxanne Call. Adik Castiel dan Genevie. Seangkatan dengan Alletha dan Allena. Senang bertemu denganmu, sister.” Roxanne memberiku senyuman manisnya. Semanis bunga kesukaanku, Primrose.
“Aku Szevarine Black. Anggap saja aku kakakmu. Well, Black dan Lahote sudah seperti adik kakak, ‘kan?” sapa Szevarine. Aku mengangguk sembari tersenyum kepadanya.
“Genevie Call.” Sambut Genevie seraya memerhatikan kuku-kuku jari tangannya. Dia sama sekali tak melirikku. Apalagi mengulurkan tangannya kearahku.
“Rafael..” seru seseorang disebelahku. Dia anak yang sekelas denganku kemarin. “…Black.”
Wait. Rafael Black? Apakah dia yang meneleponku 5 tahun yang lalu itu?
“Hallo..” Sambutku.

 “Aaaaaaaaaaaaakkkkkkkkhhhhhhhhhhh!!!!!!”
Teriak seseorang mensunyikan seanterio Kafetaria dari Kamar mandi laki-laki. Kami semua, anak-anak The Lion Hawk, buru-buru menghampiri lelaki yang berteriak itu.
“ada apa, Justin?” Tanya Rafael.
“Wanita, bersimbah darah. Tergeletak di kamar mandi, Raf.” Ucapnya ketakutan. Wanita? Bersimbah darah? Aku buru-buru masuk ke kamar mandi itu. Itu.. Itu.. Tidak Mungkin! Dia.. Dia sasha!
Oh tidak. Tidak. Tidak. Sasha.. Sasha.. Sasha! Oh God! Tak mungkin!
“Sasha..” Isakku bertunduk mendekati Mayat Sasha. “Sasha..”
“Semuanya, Tolong keluar darisini.” Teriak Castiel dari ambang pintu. “Kami akan menyelesaikannya.”
“Kenapa bisa begini dengannya?” Tanya Rafael yang ikut bertunduk mendekati mayat Sasha  diseberangku.
“Hei, Lihat. Dileher kanannya. Itu bekas gigitan.” Seru Veruca. Serontak semua anak-anak melihat leher Sasha. Dan, benar! Itu bekas gigitan. Tapi mana mungkin ada Vampir Masuk kedalam sekolah ini?
“Mungkin saja, Dom.” Jawab Genevie. Hell, kenapa dia bisa membaca pikiranku?! “Aku punya bakat sebagai Imitator, jadi aku bisa membaca pikiranmu. Aku juga yang membuat anak buah Messalla mejerit kesakitan.”
“kau memakai Bakat Aunt Jane, ‘kan?” Tanya Castiel. Genevie hanya membalas pertanyaan itu dengan mengangguk.
“Errgggg. Baiklah. Lalu, siapa Vampir itu?” tanyaku kembali.
“Aku tak tau. Aku tak menemukan satu pikiranpun tentang pembunuhan ini. Sepertinya Sasha digigit kemarin. Wait, apakah Sasha bilang padamu dia akan berlama disini kemarin?” Tanya Genevie kepadaku.
“Ya. Dia bilang dia mau mencuci hasil fotonya.”
“Mungkin saja Vampir itu Nomaden.” Seru Sean.
“Tidak, sekolah kita tertutup. Bahkan kalau Vampir masuk ke sekolah kita, satu-satunya jalan untuk ke ruang pencucian adalah lewat ruang rapat antar ketua murid. Dan aku pasti melihatnya.” Castiel ikut memberi pendapat.
“Wait, ruangan apa yang paling dekat dengan ruang pencucian?” tanyaku.
“Tata usaha..” Jawab mereka berbarengan..

(To Be continued..)

*Syalalala ~(`3`~) ~(`3`)~ (~`3`)~ XD
*Nep, jahat amat sama saye T_T hiksss L((( XD
*No Comment Egen u.u XD
<3 The Lion Hawk : A Wimpy Family, Bab 5 <3

The Lion Hawk : A Wimpy Family, Bab 4



Dominique—Desiran Ombak La Push Menemaniku. Aku menemukan tempat tersembunyi di Pantai La Push ini. Dimana hanya aku dan Ombak saja yang tau. Terpencil, namun aman dan nyaman. Ini harus menjadi tempat persembunyianku.
Kepala tata usaha. Sasha. Veruca dan sepupu-sepupunya. Messalla dan Kelompoknya. Kesakitan. Mereka menumpuk dipikiranku. Erg..

Petang ini aku baru kembali ke rumah. Dan kau tau apa? Mom sama sekali tak menghawatirkanku. Tapi Daniella-lah yang justru menghawatirkanku. Mom sangat Egois. Kau tau itu.
Kupakai Headphones-ku dan kuPlay-kan Lagu dari Ipod-ku. Hey, Soul Sister lagu yang Bersemangat untukku. Aku suka lagu itu. The Train sangat mahir dalam membuat lagu itu. Sama seperti lagu Viva La Vida.
“Domi, Makan Malam!” Teriak mom dari dapur. Oh God! Dari kamarpun aku masih bisa mendengar teriakan mom! Karena masih kesal mom tidak mengkhawatirkan aku, kubesarkan Volume Ipodku sampai ke Maximum.
5 Menit, 10 Menit, 15 Menit. Tak ada yang datang untuk menyuruhku Makan Malam. 20 Menit.. Ada seseorang yang datang! Kukira mom.. tau-taunya Nancy.
“Domi, Ayo Makan Malam.” Serunya melepas Headphonesku. Aku terduduk dikasurku memandangnya. Oh Hell, dia adik bungsuku, tapi kenapa dia seperti empat tahun lebih tua daripada aku?!
“Baiklah..” Ucapku Pasrah. Aku dan Nancy pergi ke ruang makan nan dimana mereka makan tanpa menungguku.

Selesai makan malam, aku kembali mendengarkan Lagu dengan memasang Headphones di Telingaku. Sepuluh menit kemudian Daniella masuk kekamarku dan mematikan Laguku.
“Oh God! Kenapa kau mematikan Laguku?!” Bentakku agak kesal.
“Maaf, aku harus memberitahumu sesuatu domi. Sesuatu yang menyangkut kehidupanmu.” Ucap Daniella agak serius. So, aku pun harus serius mendengarkannya.
“Baiklah, akan kudengar..”
“Sebenarnya, kau ini...”

Gale—“Apa-apaan kau membunuh murid di sekolah itu!” Teriak Cressida. Aku hanya bisa tertunduk kalau dia sudah marah. “Kau hanya membuat identitasmu terbongkar!”
“Aku kehausan, sayang.” Ucapku singkat. Dengan suaraku yang lembut ini, Cressida pasti akan langsung melembut kembali. Percaya.
“Baiklah. Jadi, siapa yang kau bunuh?”
“Dia bernama Sasha. Hanya Potografer di sekolah itu.” Kataku. “tapi, Masalahnya. Potografer di sekolah itu hanya ada dua, satu gadis malang itu, satu lagi anak The Lion Hawk.”
“Bodoh!!!” Teriak Cressida. Lagi. Dan Bodohnya, aku memberitahunya akan hal itu. “Itu sama saja kau membuka identitasmu kepada Anak-anak The Lion Hawk itu!!”
“The Lion Hawk hanya sekumpulan anak-anak pitik yang tidak mengerti apa-apa, sayang. Mereka itu terlalu bodoh.”
“Cullen Junior? Cullen Senior? Bagaimana dengan para Werewolfnya? Apakah mereka juga Pitik dan Bodoh?”
Darisitu aku tau bahwa aku seorang Vampir Licik dan Jahat yang sangat Bodoh.

Dominique— Ini mustahil. Semua yang kukira Takhayul, ternyata adalah sebuah kenyataan. Semua cerita Fiksi-Fiksi di dunia ini ternyata ada didalam kehidupan nyata. Dan semua itu adalah di sekitar lingkungan hidupku. Oh God..
Si ‘Berdarah Dingin’ dan si ‘Berdarah Panas’ adalah nyata. Mereka adalah Vampir dan Werewolf! Bagaimana ini bisa Nyata?
Daniella bilang, aku terdeteksi bahwa aku adalah Werewolf. Si ‘Berdarah Panas’. Sedangkan Veruca—yang dari awal aku aneh karena tangannya sedingin Es— Dia si ‘Berdarah Dingin.’ Alias Vampir! Oh God keluarkan aku dari kegilaan ini..
Percaya deh, ini bukan di Dunia Harry potter dimana kau bisa membuat segalanya menjadi sihir hanya dengan mengayunkan tongkatmu. Atau Di Narnia Dimana kau membuat pintu penghubung kedunia nyata Selamanya lewat cincin ‘Kuning dan Hijau’ atau dimana es menjadi cair saat keempat pevensie bersaudara datang ke Dunia Narnia. Atau disaat Aslan Mengaung, Air menjadi hidup dan menghanyutkan Warga Telmarine. Atau saat air keluar dari gambar dinding kamar yang menghubungkannya ke Kapal Dawn Treader. Atau saat Eustace dan Jill menemukan anak Caspian X kehilangan Memorinya karena duduk di Silver Chair. Atau saat kau kecelakaan Kereta, Dan mati ditempat, kau mendapati dirimu tinggal selamanya Di Narnia. Wait, Kembali kedunia Nyata. Semua Film itu Fiksi, Benar? Dan aku membenci Takhayul.
Tidak! Tidak! Tidak Mungkin! Tidak Mungkin aku Werewolf kalau aku sendiri tak percaya adanya makhluk itu.
“Mari, Ikut aku.” Daniella menarikku ke Jendela. Oh tidak, kita akan kabur?
“Mau kemana, Dane?” tanyaku ketakutan. Daniella dan aku berlari kearah hutan. Tapi, seketika Daniella berhenti.
“Liat Ini.” Dan, yang kulihat ini nyata. Daniella berubah menjadi seekor Serigala besar berwarna Abu kemerah-merahan dihadapanku. Mulutku seketika menganga dengan apa yang kulihat. Oh tidak. Apakah dunia ini gila? Menempatkan makhluk dongeng didalam dunia nyata?!
Daniella berubah kembali menjadi dirinya. Segera aku berlari kearahnya dan memeluknya. “Bagaimana kau melakukannya?!” tanyaku ketakutan.
“Itu mudah. Hanya dengan sedikit Emosi.” Jawab Daniella singkat. “saat waktu itu tiba, kau pasti bisa seperti aku..”
“Kapan?”
“Pikirkan dari hatimu..”
***
Fokus Dominique. Fokus. Hari kedua kau bersekolah jangan buat macam-macam. Jangan. Hari ini Daniella Menemaniku kemanapun aku pergi. jadi ada kesempatan untuk daniella memberitahuku segalanya tentang sekolah ini.
“Kau harus masuk kelas ekstrakulikulermu domi.” Ucap Daniella saat kami menatap Majalah Dinding sekolah. Basketball’s Class. Football’s Class. Drama’s Class. Dance’s Class. Wrestler’s Class. Music’s Class. Journalist’s Class. Dan masih banyak lagi. Tapi, Ada satu kelas yang membuatku tertarik untuk mengikutinya. Photographer’s Class. Kau tau kan maksudku? Aku cinta yang berbau potografi. Semuanya.
“Ehm, aku ma..”
“Please, Jangan pilih Music’s Class, Dom.” Potong Daniella. Well, aku juga cinta Musik. Tapi aku lebih tertarik pada potografer. “ada yang lebih Bagus dan Lebih menakjubkan dari Music’s Class di La Push Reservation. Clearwater’s Music Studio.”
“Clearwater’s Music Studio?”
“Well, Aunt kita, Aunt Annabeth, Pemilik sekolah Musik itu. Akan kupinta mom untuk mendaftarkanmu.”
“okay. Lagipula Music’s Class tak terlalu menarik perhatianku.” Sambungku. “Photographer’s Class. Aku mencintai seni potografi. Kau tau itu kan, Dane? Dan, hey, kau masuk kelas mana?”
“Journalist’s Class. Pembuat Koran mingguan disekolah ini. Well, Aku kepala Editornya, Dom. Dan kami sangat mengandalkan Para potografer sekolah ini untuk memberi beberapa fotonya pada kami.” Geramnya. “Tapi, hanya sedikit siswa yang tertarik untuk masuk Photographer’s Class. Mungkin hanya ada lima Belas siswa yang mendaftar.”
“Then, Kita bisa kerjasama.” Ucapku. Kami tertawa bersama. “Kenapa? Apakah gurunya terlalu sangar?”
“Tidak, Dom. Fasilitas mereka kurang lengkap. Jadi, semua anak lebih tertarik pada kelas lain.”

Brukkk!
Semua buku-bukuku berjatuhan kelantai. Ini kedua kalinya sejak Genevie menabrakku, dan sekarang, Seseorang menabrakku lagi! Aku memang teledor..
“Maaf.” Ucap seseorang yang menabrakku. Lelaki. Dia membantuku untuk merapihkan kembali buku-bukuku, dan memberikannya kembali kepadaku. Aku masih terduduk untuk mengambil beberapa buku lagi, sampai seketika lelaki itu memberikan tangannya untuk membantuku berdiri.
“Terima kasih.” Ucapku enteng. Saat aku berdiri, saat itupun aku menatap wajahnya. Matanya biru, dengan rambut Blonde yang sedikit Acak-Acakan tersenyum kepadaku sambil mengulurkan tangannya. “Aku Dastan..” Ucap anak itu. “..Dastan Delphinia. Ketua Murid disini.”
“Dominique Lahote.” Aku mengulurkan tangannku menyambut tangannya.
“Kau keluarganya Daniella Lahote?”
“Ya. Tepatnya kembarannya.”
“Kembaran? Tapi kalian tak kembar. Dan Daniella tak pernah bercerita dia punya kembaran.”
“ha ha. Aku tau. Rambutku Blonde dan dia Cokelat. Mata kamipun tak sama. Tapi kami punya kebiasaan yang sama.”
“I see.” Dia tersenyum.
“Maaf, Bisa kau lepaskan tanganku? Kau terlalu keras memegangnya.”
“Maaf.” Ucapnya meminta maaf sembari melepaskan tanganku. “Aku harus pergi. Senang berkenalan Denganmu, Dominique.”
“Domi.” Ralatku. Dia tersenyum dan pergi. Oh Hell, aku baru bertemu malaikat yang datang Dari surga. Aku senyum-senyum sendiri saat aku berjalan kekelas dan kulihat aku sekelas dengan Daniella dikelas Biologi.
“Domi!” serunya. Semua anak-anak yang ada disekitarku memerhatikanku. Tapi, saat kulihat disekeliling Daniella, itu.. itukan, 5 orang anak perempuan yang kemarin menabrakku—termasuk Veruca dan Genevie— dan 3 orang anak lelaki, juga si lelaki berambut Cokelat kehitaman yang kemarin sekelas denganku di kelas Sosiologi.

(To Be continued..)

*Terlalu acak2an dan terlalu sebentar u.u
 *No comment Egen from me u.u XD
<3 The Lion Hawk : A Wimpy Family, Bab 4 <3